Sabtu, 18 April 2009

Kemapanan dan Secangkir Kopi Starbuck


18 April 2009
Pada satu malam minggu di starbak citos bersama hubby tersayang, 2 laptop dan green tea lante venti...

Om Slamet… begitu biasa Laras memanggilnya, tetangga kecilku yang lucu nan ndut itu. Sehari-hari dia bekerja sebagai satpam pada sebuah bank internasional ternama di salah satu pusat perbelanjaan kelas atas di kawasan Jakarta Selatan. Sekilas tidak ada perbedaan berarti antara dia dan satpam-satpam lainnya. Tapi ssstttt.. Om Slamet ini punya belasan rumah petakan lohhh.. Dan ini murni hasil kerjakerasnya sebagai satpam.

Dengan mengenyam pendidikan SMA, pekerjaan sebagai satpam saat ini mungkin disandangnya hanya sebagai status sosial, pengisi waktu luang dan pergaulan. Kira-kira mungkin seperti anak pejabat dan konglomerat yang bekerja hanya untuk mencari status sosial karena hartanya sudah lebih dari cukup untuk tujuh turunan.

Om Slamet tetap bekerja penuh semangat sampai detik hari ini dan dengan ketekunannya dari hasil gajinya yang tak seberapa, belasan tahun lalu ia mulai menabung sedikit demi sedikit, pengeluaran tidak boleh lebih dari pemasukan. Gaya hidup pun harus disesuaikan agar tiap bulan dapat menabung lebih banyak. Ketika tabungan sudah mulai mencukupi mulailah ia berinvestasi dengan membeli sebidang tanah dekat rumah kontrakannya. Ada uang lagi ia mulai membangun rumah petakan, tabungan bertambah karena sudah tak perlu membayar kontrakan ia membeli lahan lagi disebelahnya, ada tambahan uang ia mulai membangun rumah petakan lagi, penghasilannya jadi ganda, berarti tabungannya makin banyak, dan ia mulai lagi membeli lahan di sebelahnya begitu seterusnya..

Seumur hidupnya Om Slamet belum pernah membaca Rich Dad Poor Dad atau Cash Flow Quadrant nya Robert T Kiyosaki atau Mengelola Keuangan Keluarga karangan Safir Senduk apalagi Think and Grow Rich dan Success through a Positive Mental Attitude by Napoleon Hill yang biasa dibaca oleh kalangan eksekutif muda untuk mengatur problem keuangan pribadi dan menuju kebebasan finansial. Tapi intisari buku2 tsb sudah dipraktekkan langsung bermodalkan sabar dan tekun.

Hari ini dia masih berdiri tersenyum menyapa nasabah yang keluar masuk di bank tempat dia bekerja sambil sesekali menghirup aroma kopi starbuck dari gerai depan. Secangkir kopi yang tak sampai hati untuk dibelinya. …karena dengan nilai nominal yang sama dia bisa membayar upah kuli bangunan sehari. …karena dengan nilai nominal yang sama dia bisa membeli bensin untuk motornya selama dua minggu. ...karena baginya kemapanan bukan dalam ukuran secangkir kopi Starbuck…

Tidak ada komentar: